Kisah Keledai Mengambil Hikmah

Suatu hari seorang petani dikejutkan dengan suara erangan keledai yang sangat keras, dia berlari ke sumber suara dan mendapati keledai miliknya tercebur kedalam sumur tua yang dalam. Setelah berpikir keras bagaimana dia bisa menyelamatkan keledainya, dia tidak menemukan cara untuk mengangkat keledai dari dalam sumur tersebut. Diundangnya para tetangga untuk membantu, tetap tidak ketemu cara untuk melakukannya.

Lantas si petani bermusyawarah dengan para tetangga yang sudah ramai berkumpul : “Aku kasihan mendengar erangan keledaiku, lagi pula sumur tua ini sudah tidak aku pakai – bagaimana kalau keledaiku yang didalam sana kita kubur sekalian dengan tanah untuk mengakhiri penderitaannya ?

Para tetangga menyetujui usulan si empunya keledai dan mulai membantu mengurug sumur dengan tanah. Ketika sekop demi sekop tanah mulai menimpa punggung si keledai, si keledai semakin mengerang – tetapi kemudian dia mendadak diam dan berpikir. Dalam hatinya dia berkata “Tuanku sangat menyayangiku, pasti dia sedang menolong aku dengan tanah ini !”.

Lantas bersamaan dengan semakin banyaknya tanah yang dilempar kedalam sumur, kaki keledai mulai menginjak ke tanah yang baru dilempar tersebut. Dia langsung berpikir : “oh begini cara tuanku menyelamatkanku, dia melempar tanah banyak-banyak kedalam sumur supaya aku bisa berpijak dan makin banyak tanah dilempar akan sampailah aku ke permukaan”.

Maka itulah yang dilakukan si keledai di dalam sumur, setiap tanah yang dilempar kedalam sumur menjadi pijakannya untuk semakin dekat ke permukaan. Sebagian tanah memang mengenai tubuhnya tetapi bisa dikibaskannya dan menjadi pijakannya pula.

Karena sudah beberapa saat tidak mendengar erangan si keledai lagi, si petani mengomandoi tetangganya untuk berhenti : “Stop – stop, nampaknya keledaiku sudah mati “. Lantas serentak mereka melongok kedalam sumur. Bukan main terkejutnya petani dan para tetangga karena didapatinya keledai bukannya mati – malah dengan wajah yang nampak gembira (iya, para pemilik keledai ‘tahu’ kapan keledainya gembira dan kapan bersedih !) di sudah sangat dekat dengan permukaan.

Para petani dan tetangga pun mahfum bahwa tanah-tanah yang mereka lempar kedalam sumur untuk mengubur si keledai, ternyata malah berguna sebagai pijakan si keledai tersebut untuk naik ke permukaan sumur. Maka beramai-ramailah si petani dan tetangga untuk meneruskan melempar tanah kedalam sumur sampai sumur rata dengan tanah dan keledai segar bugar sampai ke permukaan.

Ada beberapa hal yang sesungguhnya membuat si keledai tadi selamat, pertama adalah tidak panik dalam menghadapi permasalahannya, kedua prasangka baik terhadap tuannya dan ketiga adalah mampu melihat sisi positif dari apa yang dialaminya dan keemapat berusaha dengan sungguh-sungguh mewujudkannya. Tidak panik adalah ketika si keledai berhenti mengerang kemudian berpikir, prasangka baik adalah ketika si keledai tidak melihat tanah-tanah yang dilempar petani dan para tetangga kedalam sumur adalah upaya mereka untuk menguburnya. Sisi positif adalah ketika dia melihat tanah-tanah tadi sebagai pijakannya untuk naik ke permukaan.

Dalam hidup, masalah demi masalah tentu kita hadapi. Tetapi bukan masalah-masalah tersebut yang menjadi masalah, terkadang justru sikap kitalah yang menjadi masalah. Sejauh kita tidak panik dalam menghadapi masalah, selalu berprasangka baik padaNya, maka insyaAllah kita akan ketemu juga sisi positif dari masalah-masalah tersebut. Amin.

Dengan kata lain, kita harus sabar menghadapi ujian, khusnudzon billah wa su’udzon bi nafs (prasangka baik pd Allah dan introspeksi diri), tidak fokus pada masalah (tanah yg diatas) tapi fokus pada solusi (tanah yang dibawah) sehingga bisa mengambil hikmahnya (tanah sebagai pijakan), serta dengan keyakinannya berikhtiar sungguh-sungguh sesuai dengan kemampuannya. Bila semuanya dijalani dgn keimanan yg benar/lurus, InysaAllah pertolongan Allah itu dekat dan Allah bersama dengan orang-orang yang sabar..

Mata nashrullah…Alaa inna nashrullahi qoriib.

Dimanakah pertolongan Allah…ketahuilah, sesungguhnya pertolongan ALLAH itu dekat. (QS Al Baqarah: 214)

Sumber: geraidinar.com dengan penambahan point ke empat dan paragraf terakhir.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Akhlaq, Cerita Umum, Entrepreneurship dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s