Anak…

Dahulu kala ada sebuah pohon apel yang besar dan rindang tumbuh di halaman rumah seorang petani. Bocah kecil anak petani tersebut suka sekali berlarian mengelingi pohon ini dan dengan imaginasinya dia bisa ‘berbicara’ dan ‘bermain’ dengan si pohon apel. Seolah seperti berteman, bocah kecil ini menjadi sangat mencintai pohon apelnya dan demikian pula sebaliknya. Tetapi waktu berlalu, si kecil tumbuh menjadi remaja dan jarang sekali menyapa si pohon apel.

Suatu hari di usianya remaja, si anak duduk termenung bersedih dibawah pohon apel tersebut. Si pohon kasihan melihatnya dan diajak-nya bicara : “Ayo bermain lagi dengan saya…” ajaknya, si anak menjawab : “Aku sudah bukan anak kecil lagi, aku tidak berlarian mengitari pohon apel…”, kemudian dia melanjutkanaku perlu uang untuk memenuhi kebutuhanku…”. Si pohon apel menghiburnya : “ aku tidak punya uang, tetapi aku punya buah apel yang banyak…ambillah, dengan itu engkau akan bisa memenuhi kebutuhanmu…”. Girang sekali si anak dengan tawaran ini, diambilnya berkeranjang apel dan dijualnya, setelah itu dia pergi tidak menengok lagi pohon apelnya dalam waktu yang panjang.

Tahun demi tahun berlalu, si anak kini telah menjadi lelaki dewasa dan siap berumah tangga. Kembali dia termenung dibawah pohon apelnya, si pohon apel-pun kembali menyapanya : “kenapa bersedih ?, ayo bermain…”. Lelaki dewasa tersebut menjawab : “ Aku bukan lagi anak-anak, aku lelaki dewasa yang pusing memikirkan berumah tangga, aku belum punya rumah…”. Si pohon apel-pun menghiburnya : “Aku tidak bisa memberimu rumah, tapi cabang-cabangku banyak – potonglah dan buatlah rumah darinya.” Lelaki ini dengan gembira memotong-motong cabang apel dan dibuatnya rumah, tetapi setelah itu dia menghilang lagi dalam waktu yang lama.

Tahun demi tahun berlalu lagi, datanglah lelaki paruh baya dan termenung dibawah pohon apel. Meskipun mukanya sudah berubah dan rambutnya-pun mulai memutih, si pohon apel tidak lupa bahwa dia adalah bocah kecil yang dari dulu selalu datang padanya. Bagi pohon apel ini, dia tetap bocah kecil yang ingin dihiburnya : “Ayolah, jangan bersedih – ayo bermain…”. Si lelaki paruh baya dengan ketus menjawabnya : “Yang bener saja, kamu tidak tahu bahwa saya sudah menjadi orang tua – masak kamu ajak aku bermain”.

Lelaki ini kemudian melanjutkan : “Aku ingin berlibur yang jauh, aku ingin berlayar…tetapi aku tidak punya uang untuk membeli perahunya…”. Tidak kehabisan akal, si pohon apel tetap ingin menghiburnya : “Aku tidak punya uang untuk membelikanmu kapal, tapi lihatlah batangku yang tua dan besar – potonglah dan buatlah perahu – sehingga dengannya kamu bisa memenuhi keinginanmu…”. Lelaki ini-pun bergegas memotong pohon apel ini sampai pangkal pohonnya, dibuatnya berahu untuk berlayar dan setelah itu menghilang untuk waktu yang lama lagi.

Bertahun-tahun kemudian di tanah yang sudah gersang – tidak ada lagi pohon apel rindang, seorang laki-laki tua dengan wajah sudah keriput dan rambut memutih semua duduk di antara sisa-sisa akar pohon. Si pohon apel yang kini tinggal akarnya-pun masih ingat, lelaki tua ini adalah bocah kecil yang dahulu selalu diajaknya bermain. Meskipun sudah tidak punya apa-apa, si akar pohon apel tetap ingin menghibur : “kali ini apa yang engkau butuhkan ?”. Lelaki tua ini menjawab : “Aku sudah letih menempuh perjalanan hidupku, aku hanya ingin istirahat…”.  Si akar pohon apel-pun tetap menghiburnya : “…gunakanlah akar-akar yang tersisa ini untuk tempatmu  beristirahat…”.

Siapakah pohon apel yang rela mengorbankan apa saja untuk lelaki tersebut ?, dialah ibu dan bapak kita. Mereka mengorbankan apapun untuk kita, tetapi kita sering melalaikannya. Beruntunglah Anda yang masih memiliki orang tua, segera kunjungi mereka, ganti hibur mereka meskipun mereka tidak pernah memintanya. Apapun yang bisa Anda lakukan tidak akan pernah cukup untuk membalas jasa keduanya, tetapi usaha maksimal Anda akan mengobati kerinduan Anda bila keduanya sudah tidak ada.

 

Sumber: Geraidinar.com

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Akhlaq, Cerita Umum dan tag , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s