Cerita 7 – Anak Bertanya Pada Ayah

Al-Husein cucu Rasulullah saw menuturkan keluhuran budi pekerti beliau Saw. Ia berkata:

“Aku bertanya kepada ayahku tentang adab dan etika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap orang-orang yang bergaul dengan beliau, ayahku menuturkan: “Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa tersenyum, luhur budi pekerti lagi rendah hati, beliau bukanlah seorang yang kasar, tidak suka berteriak-teriak, bukan tukang cela, tidak suka mencela makanan yang tidak disukainya. Siapa saja yang mengharapkanya pasti tidak akan kecewa dan siapa saja yang memenuhi undangannya pasti akan senantiasa puas. Beliau meninggalkan tiga perkara: “riya’, berbangga-bangga diri dan hal yang tidak bermanfaat.” Dan beliau menghindarkan diri dari manusia karena tiga perkara: “beliau tidak suka mencela atau memaki orang lain, beliau tidak suka mencari-cari aib orang lain, dan beliau hanya berbicara untuk suatu maslahat yang bernilai pahala.” Jika beliau berbicara, pembicaraan beliau membuat teman-teman duduknya tertegun, seakan-akan kepala mereka dihinggapi burung (karena khusyuknya). Jika beliau diam, barulah mereka berbicara. Mereka tidak pernah membantah sabda beliau. Bila ada yang berbicara di hadapan beliau, mereka diam memperhatikannya sampai ia selesai bicara. Pembicaraan mereka disisi beliau hanyalah pembicaraan yang bermanfaat saja. Beliau tertawa bila mereka tertawa. Beliau takjub bila mereka takjub, dan beliau bersabar menghadapi orang asing yang kasar ketika berbicara atau ketika bertanya sesuatu kepada beliau, sehingga para sahabat shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mengharapkan kedatangan orang asing seperti itu guna memetik faedah. Beliau bersabda: “Bila engkau melihat seseorang yang sedang mencari kebutuhannya, maka bantulah dia.” Beliau tidak mau menerima pujian orang kecuali menurut yang selayaknya. Beliau juga tidak mau memutuskan pembicaraan seeorang kecuali orang itu melanggar batas, beliau segera menghentikan pembicaraan tersebut dengan melarangnya atau berdiri meninggalkan majlis.” (HR. At-Tirmidzi).

Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan:

“Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bukanlah seorang yang keji dan tidak suka berkata keji, beliau bukan seorang yang suka berteriak-teriak di pasar dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Bahkan sebaliknya, beliau suka memaafkan dan merelakan.” (HR. Ahmad).

Moral story:

  • Sebagai orang tua, kita harus selalu siap dengan jawaban-jawaban yg informatif-edukatif terhadap pertanyaan-pertanyaan anak.
  • Tak ada contoh orang yg sebaik beliau Saw dalam perbuatannya/akhlaqnya, maka hendaklah ditanamkan kepada anak2 kecintaan pada Rosulullah saw dengan cara sering menceritakan kehidupan beliau Saw pada setiap aktivitas anak, agar mereka menirunya dari kesadarannya sendiri.

Sifat2 terpuji dalam masalah pergaulan yg perlu diajarkan/ditanamkan ke anak a.l:

  • Suka senyum dan ramah kepada teman atau orang lain
  • berbudi luhur dan rendah hati serta hormat kepada orang yang lebih tua
  • menyenangkan orang lain dan tidak membuatnya susah
  • berbicara hanya yg manfaat atau bernilai pahala
  • tidak memotong pembicaraan kecuali yg tidak manfaat
  • memberi kesempatan orang lain berbicara dan memperhatikannya hingga selesai
  • mendengarkan dgn khidmad (spt ada burung di kepalanya, spy tdk terbang) bila sedang dinasehati
  • mengalihkan pembicaraan atau meninggalkannya bila tidak ada manfaat/menimbulkan dosa
  • bersabar dalam menghadapi orang lain, suka menolong orang dan tidak mengecewakannya
  • tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tapi malah dgn kebaikan
  • suka memaafkan dan merelakan
  • bila dikasih makanan, tidak suka mencela makanan yang tidak disukainya
  • tidak suka dipuji secara berlebihan, dll.

Sifat-sifat buruk dalam pergaulan yang harus dihindari antara lain sbb:

  • suka teriak-teriak atau kasar dalam ucapan dan tindakan
  • riya/suka pamer, bangga diri/sombong dan hal2 yg tak bermanfaat (laghoo)
  • suka mencela/memaki orang lain
  • mencari2 aib orang lain/tajassus, dll.
  • Ghibah (Jawa: ngrasani), adu domba (namimah), buruk sangka (su’udzhon), buhtan (tuduhan palsu, dalam bhs Indonesia diartikan menjadi fitnah), dll.
Iklan
Pos ini dipublikasikan di Akhlaq dan tag , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s