Cerita 6- Kisah Istighfar Pembuat Roti

Dikisahkan suatu hari seorang Imam besar bepergian jauh untuk sebuah urusan. Karena kemalaman di jalan , maka beliau bermaksud bermalam di sebuah mushala yang di jumpainya di sebuah perkampungan. Beliau memasukinya dengan gembira karena menemukan tempat untuk beristirahat. Tetapi ketika beliau bermaksud rebahan untuk istirahat, beliau dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang mengaku pengurus dari mushalla tersebut.  Diluar dugaan beliau pengurus mushalla itu menghardik dan mengusirnya sembari mengatakan bahwa mushalla bukan tempat tidur.

Dengan perasaan yang tidak menentu dan rasa lelah yang menyerangnya sang imam kembali menyusuri jalan di tengah malam yang hampir larut. Di perjalanan sang imam bertemu dengan seorang yang mengaku sebagai penjual roti. Setelah berkenalan si penjual roti kemudian mengajaknya singgah ke rumahnya. Sang Imam sekali bersyukur sekali bertemu dengan penjual roti yang baik hati.

Si penjual rotipun membiarkan sang Imam di tempatnya untuk beristirahat, sambil dia memulai untuk menyiapkan penggilingan untuk membuat roti yang akan dijual besuk paginya. Sebelum benar-benar tertidur, sang Imam memperhatikan gerak-gerik si penjual roti dalam menyiapkan pembuatan rotinya. Sang Imam terperanjat ketika menyaksikan sesuatu yang menakjubkan dari sang penjual roti. Setiap mengayunkan penggilingan roti, sang penjual roti selalu membaca istighfar. Begitulah yang dilakukannya sepanjang pembuatan roti sampai selesai.

Karena penasaran maka sang Imam mendatangi penjual roti dan menanyakan perilakunya tersebut. Si penjual roti menceritakan bahwa kebiasaan itu sudah lama dia lakukannya. Tidak hanya saat menggiling roti saja tetapi hampir dalam setiap kesempatan dan untuk semua pekerjaan. Kemudian Si penjual roti menuturkan bahwa sejak dia melakukan kebiasaan beristighfar tersebut hampir seluruh doa-doanya dikabulkan oleh Allah swt. Tidak ada satupun permintaan yang dia panjatkan kepada Allah, pasti Dia kabulkan. Kecuali hanya satu doa, kata si Penjual Roti, yaitu keinginan untuk bertemu langsung  dengan Imam Ahmad bi Hambal.

Sang Imam terperanjat seketika dan tidak mampu menyembunyikan rasa harunya mendengar penuturan sang penjual roti. Dan akhirnya sang Imam mengaku dan berterus terang bahwa dialah Imam Ahmad bin Hambal. Maka keduanya kemudian meluapkan rasa kegembiraan dan saling  berangkulan. Masih terlintas dalam pikiran sang Imam bahwa ternyata beliau diusir dari Mushalla dan kemudian dipertemukan dengan si penjual roti adalah salah satu cara Allah swt untuk mengabulkan doa si penjual roti. Allaahu Akbar.

Sumber: Genta (Gerakan Cinta Qur’an)

Moral cerita:
Perbanyak istighfar, karena ringan diucapakannya tapi berat timbangannya.
Selalu berprasangka baik terhadap Allah, bahwa Allah akan selalu mengabulkan doa-doa kita.
Ridho terhadap takdir Allah meskipun terasa pahit diawalnya, tapi Allah Maha Tahu yang terbaik buat kita di akhirnya.
Terkabulnya doa sering belum tentu sama dengan apa yang kita minta, tetapi diberikan/diganti Allah dgn apa yang kita butuhkan (dalam bentuk lain).
Bersikap sabar dalam berdoa, yaitu tak berputus asa. Sabar juga dalam setiap musibah/kemalangan yg menimpa dan bersikap syukur atas setiap nikmat yg kita terima.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Akhlaq, Kisah orang shalih dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s