Cerita 1- Hari Kiamat

Kisah 1:

”(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat keguncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat keras”.(terjemah QS. Al Hajj [22]: 2)

Kisah 2:

“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua),
pada hari ketika manusia lari dari saudaranya,
dari ibu dan bapaknya,
dari istri dan anak-anaknya.
Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.”(terjemah QS. Abasa [80]: 33-37)

Kisah 3:

Diriwayatkan dari Abu Dzar bahwa Rosulullah bersabda: “Sesungguhnya aku melihat sesuatu yang tak bisa kalian lihat, mendengar apa yang tak kalian dengar, yaitu langit telah retak dan sudah semestinya langit berderak. Di sana tiada suatu tempat untuk empat jemari kecuali telah ada malaikat yang menyungkurkan dahinya bersujud kepada Allah. Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui niscaya kalian pasti sedikit tertawa dan banyak menangis. Kalian juga tidak akan bersenang-senang dengan istri di tempat tidur, kalian tentu akan keluar ke jalan-jalan untuk memohon perlindungan kepada Allah” lalu mata Abu Dzar pun berlinangan tangis dan berkata: “demi Allah, seandainya bisa, lebih baik aku menjadi pohon saja yang diambil daunnya”(HR Tirmidzi: 2312).

Pesan Moral/Hikmah:
Dahsyatnya peristiwa hari kiamat yg belum pernah terjadi sebelumnya dan sulit dibayangkan utk menyerupainya; urusan pada hari kiamat sungguh menyibukkan sehingga ibu bisa lupa pada anaknya; analogi: daripada kufur, lebih baik kamu jadi pohon yg bisa diambil manfaatnya.

Teknik penyampaian:
Ceritakan/kaitkan dgn peristiwa alam spt gempa, tsunami, global warming, hujan meteor, tumbukan bintang2, tanah longsor, ibu yg lupa dgn adek/baby nya, dll. Jangan menakuti-nakuti anak berlebihan, tp hibur dgn bahwasannya Allah akan menyelamatkan kita, asal kita mau sama2 beriman. Ditinggal ibu sendirian itu ga enak, lho. Ibu bisa lupa sama anak2 kalo kalian tidak mau nurut (beriman dan beribadah) seperti yang ibu lakukan. Pake analogi: orang yang kufur tidak membawa manfaat, masih lebih baik sebatang pohon yg bermanfaat daunnya, dll.

Respon anak:
Bila anak mendengarkannya penuh perhatian, inilah golden moment yg kita tunggu2, maka sisipilah hal2 yg berkaitan dgn akidah, akhlaq thd orang tua, keluarga, lingkungan, serta perintahkan melakukan ibadah sebagaimana yg kita contohkan.

Harapan orang tua:
Anak percaya dgn rukun iman ttg hari kiamat/hari akhir.
Menguatkan aqidah
Menumbuhkan rasa takut/cemas(khauf) pd Allah yg berujung pada kecintaan utk melakukan ibadah2 spt sholat dan puasa, akhlaq mulia spt hormat pada orang tua, memberi manfaat utk oranglain, tidak bohong, dll. Melatih/menanamkan kemandirian anak bahwa unutk urusan akherat, kita bertanggungjawab sendiri2, ayah-ibu tak bisa menolong kalian kecuali dgn amal shalihnya sendiri.

Pengalaman:
Suatu pagi, anak masih asyik maen komputer, tp kami  harus siap2 berangkat. Maka buru2 kami berlari mengejar bus sekolah karena hampir terlambat. Sesaat hampir sampai halte bus, terlihat disana bus sedang lewat mendekat halte. Namun lari2 kecil anakku tak bisa membuat segera sampai. Persis ketika anaku baru nyampe dibelakang halte, bus  lewat didepannya tak terhentikan. Sekiranya saya sendirian, tentulah dengan cepat bisa sampai halte sebelum bus lewat. Namun kuhentikan langkahku melihat langkahnya tertinggal jauh dibelakang. Lalu kukatakan, “Mas, klo di hari kiamat, abi sudah tidak ingat lagi ama mas abbad…Abi bisa naik bus sendiri…” Rupanya, mendengar ucapanku, dia cukup tercengang dan langkahnya berhenti seketika itu. Cukup lama dia terpaku berdiri ditempat,  memandang bus yg meninggalkannya menghilang, sambil mencerna kata2ku..mungkin sambil membayangkan andai dirinya berpisah dgn orang2 terdekatnya, seperti dirinya tertinggal bus saat ini…tentu sangat menyakitkan. “tapi abi masih sayang ama mas abbad, masih mau nunggu…” hiburku, “syaratnya kalo mas abbad mau manut ama abi”, tambahku.

Saya yakin anak-anak tak mau pisah dgn orang tuanya…maka ketika anak mbandel, tak mau manut, tak mau diajak sholat…maka cobalah ambil hatinya melalui kisah2 penuh hikmah yg melunakkan hati agar mereka mau mengikuti apa yg kita contohkan.

Semoga kelak kita bisa dikumpulkan kembali bersama dengan orang2 yg kita cintai ketika di dunia.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Cerita Akherat dan tag . Tandai permalink.

2 Balasan ke Cerita 1- Hari Kiamat

  1. ramdan berkata:

    sesungguhnya aq adalah hamba allah yg yang mempunyai sejuta kekurangan.

  2. abbadhidayat berkata:

    Setelah hampir satu tahun bercerita ttg hari kiamat, hari ini saya chat dgn A1 (6 tahun), dan skrg gantian dia yg ingin bercerita ttg hari kiamat dgn membacakan surat AL Zalzalah. Bahkan dia bermimpi katanya dipanggil Allah masuk ke syurga (masyaAllah)..Intinya sangat penting/harus utk menanamkan aqidah yg lurus ke anak2 kita saat usia balita. Abinya membacakan tafsir perkata yg dikaitkan dgn fenomena alam spt gempa, atau reaksi kima spt api+rock=magma, gas+water=geyser,dll yg sangat relevant dgn tafsir surat Al Zalzalah tsb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s